Diary Santri Covid-19

Ini hanya sepotong kisah "Diary Santi Covid-19"


Karangsuci, 3 Oktober 2020

20.13

 

Alhamdulillahirabbil’alamin

Nikmat Tuhan man ayang kau dustakan ?

Saat ini aku tengah duduk di atas kursi ketinggian. Bukan, aku bukan sedang bicara soal jabatan. Aku hanya sedang diberi kesempatan oleh Tuhan. Mencicipi kursi nyaman dengan angin sepoi di atas lantai tiga. Ini bukan lagi komplek Khodijah, tapi di lain tempat yang rupanya sama-sama indah. Rusunawa. Ya, sudah dua hari aku berada di tempat ini. Menikmati hidup yang begitu nikmat. Tentang skenario Allah yang selalu memikat. 

Hussss…

Hembusan angin malam ini sungguh membuat aku nyaman. Seolah membawaku ke dalam dunia yang tidak lagi ada siapa-siapa. Kecuali aku dan Engkau…

Jujur sampai detik ini aku masih bingung, bagaimana aku harus menyatakan syukur yang sebenarnya. Aku ini… aaaarghh… entah hamba macam apa. Sampai umur ku di 21 tahun ini, masih saja menjadi hamba yang kurang bersyukur. Menyatakan membuktikan sebuah rasa cinta saja aku belum bisa. Ingatkah kisah bagaimana aku bisa sembuh dari Covid-19 ini ?

 

Karena siapa kecuali karena-Mu…

 

Sungguh aku tidak pandai berkata-kata. Karena belum ada kata yang mewakili perasaanku, karena ke-Maha Baik-an Mu. Ya Rabb, tempat ini sungguh membuatku kelu. Ingin sebenarnya aku tergugu. Tapi ini bukan saatnya. Aku tidak boleh mengeluarkan banyak air mata saat ini. Karena memang semua harus dijalani.

Begitu banyak Cinta yang aku dapat, karena Engkau Yang Maha Cinta.

 

Tentang drama yang baru saja terjadi beberapa waktu yang lalu. Tentang kisah yang katanya aku baru saja mencicipi rasanya menjadi penduduk surga. Rumah sakit itu, memang benar-benar seperti surga. Semua makanan serba lengkap, enak, dan nyaman. Pelayanan full serasa kelas VVIP bagiku. Tempat yang nyaman, putih, bersih, dan kasur empuk. Meminta apa saja akan diberi. Ketika ada keluhan segera ada tindakan. Ketika ada yang kurang segera ada diadakan. Siapa yang tidak mendambakan kehidupan seperti itu ?

Kembali aku mengingat semua kenangan di sana. Memang itu bukan untuk dilupakan, tapi untuk diambil pelajaran. Yang pertaman tentang menjaga kesehatan. Aku belajar bagaimana menjaga kebersihan. Di sana setiap hari kamar dibersihkan dua kali seharim baik di sapu atau pun dipel. Aku sangat malu ketika seorang astronot menegur kerapihan kamarku.

“Ah. Mbanya juga ngajarin ndak rapih” godanya waktu itu ketika melihat barang-barang adik wustho yang berantakan di lantai.

“Sudah ya, nanti habis ini makan, minum obat terus rapih-rapih. Jangan lupa mandi”

Jujur, aku memang sakit hati waktu itu. Lebih baik aku dikatakan bahwa “Kamu jelek, tidak cantik, dibandingkan kamu perempuan ko jorok”. Aku dan seorang temanku pasti malu, karena sudah se-dewasa ini (katanya) masalah kebersihan masih saja ditegur. Tapi aku suka, justru dari sakit hati ini muncul kesadaran untuk mencoba menjadi lebih baik lagi. Akhirnya, selesai makan dan minum obat, aku bersama teman-teman pun membereskan semua barang-barang yang masih tegreletak di lantai. Di sana memang sudah di sediakan dua lemari untuk 5 pasien. Tapi kami belum berani memakai karena memang belum ada ijin atau perintah. Tapi karena sudah ada teguran seperti itu, kami pun langsung memanfaatkan lemari yang ada. Dua lemari kami bagi. Satu khusus menyimpan makanan dan satu untuk selain makanan. Makanan memang selalu berdatangan setiap waktu. Entah dari pihak rumah sakit, donasi alumni, sampai donasi perawat dan semuanya. Sampai-sampai kita bingung mau memilih makanan mana yang akan dimakan terlebih dahulu. Sudah aku katakan ini seperti surga yang ada di dunia bukan ? karena selama ini kami di pondok pesantren makan selalu seadanya. Jadi sangatlah bersyukur kami bisa makan enak di Rumah Sakit ini. Kami belajar banyak mengenal nama-nama makanan enak dan sehat di sana. Lemari yang satu kami gunakan untuk menyimpan kebutuhan pribadi seperti seperangkat alat sholat, bahan mandi (shampo, sabun, pasta gigi, sikat gigi, pembalut, dan sebagainya). Selesai sudah me-manage ruangan, aku kembali merebahkan tubuh di kasur. Tidak lama kemudian grup ramai, katanya akan ada acara berjemur. Ya, pelajaran kedua yang aku ambil di RS ini adalah menjaga kesehatan dengan berolah raga. Jangan tanya di pondok seperti apa sebelumnya ya. Selama lockdown kami memang tidak pernah berolahraga. Karena alasan bualan seorang santri (saya) adalah “Sholat Dhuha juga sudah termasuk olahraga ko, jadi ndak usah senam, berjemur ini itu dan sebagainya”. Jadi aku santai saja dan bahagia karena tidak pernah berkeringat setiap harinya. Tapi di sini aku belajar bahwa sehat itu harus ada ikhtiarnya. Dengan berjemur adalah salah satu caranya. Tubuh terasa nikmat sekali ketika sinar matahari menembus langsung kulit kami. Juga keringat yang keluar aku rasa ada sensasi nikmat tersendiri. Aku suka ini.

Sebenarnya ada banyak pelajaran yang bisa aku ambil dari kisah singgahku sementara di RS. Aku tidak akan memperjelas kenikmatan itu di sini. Karena aku akan langsung saja mengambil hal yang sangat penting. Itu adalah kesyukuran.

Tentang kisah nikmat di RS baik dari makanan, kesehatan, dan pelayanan tentu ada yang lebih nikmat dari itu. Yaitu kedamaian. Kedamaian malam bersama angin sepoi dan mencoba mendekat pada Sang Pencipta. Belum lagi kelegaan di dadaku membaca al-Qur’an antara Maghrib dan ‘Isha tadi. Bukan. Bukan aku berniat sombong, tapi aku akan berbicara jujur apa adanya. Aku teringat perkataan seorang ustadh idolaku, ketika berada di kelas Fiqih mengaji kitab Sulamut Taufiq. Katanya manusia itu memiliki nafsu yang sangat besar. Itulah mengapa di al-QUr’an Allah selalu menggambarkan surga dengan sesuatu yang sangat nikmat. Seperti sungai-sungai yang mengalir, buah-buahan yang selalu tersedia, bidadari-bidadari yang cantik, arak yang tidak memabukkan, dan sebagainya. Manusia mana yang tidak menginginkan itu semua ?. Aku rasa semua pasti menginginkan kehidupan yang demikian. Karena nafsu melekat di dalam diri setiap  manusia. Tapi apakah benar, itu yang diinginkan dari penduduk surga sebenarnya ? ternyata bukan, kawan. Satu hal yang paling dirundukan para penduduk surga adalah waktu-waktu ketika Allah menampakkan wajah-Nya. Mereka sangat merindukan waktu-waktu ternikmat itu. Tidak lagi ada rasa ingin menikmati segala isi fasilitas surga, karena memang hal ternikmat adalah bertemu dengan-Nya.

 

Lalu, apa korelasinya dengan aku saat ini ?

 

Bagiku fasilitas di Rumah Sakit kemarin ibarat fasilitas di Surga. Dan berada di lingkungan pesantren adalah saat-saat aku merasa dengan dengan-Nya. Aku tidak peduli bagaimana fasilitas dan keterbatasan yang ada di sini. Tapi Cinta, yang membuatku seolah lupa akan segalanya.

Cinta yang sudah diberikan pengasuh kepada kami adalah hal yang sangat aku kagumi. Ada getaran hati yang tidak kunjung berhenti ketika menatap wajah sang murabbi ruhi. Seperti halnya malam ini. Beberapa santri yang sudah dinyatakan negatif dari covid-19 disambut dengan meriah oleh semua santri. Bukan hanya itu, tapi Ning, Gus, dan Ibu Nyai. Semua menyabut hangat dengan kemeriahan

 

“Thola’al badru’alaina…”

Teriakan santri ada dari berbagai penjuru pondok ini. Ada dari komplek Darsol (Darus Sholah), Khodijah, Al-Arifah, Rusunawa (saat ini aku berada) dan balkon ndalem atas tentunya.

 

Inilah drama yang akan aku ingat sampai kapan pun nanti.

Kehangatan…

Kedamaian…

Siapa yang mendatangkan ?

 

Siapa lagi kecuali Dia Yang Maha Cinta. Allah Subhanahu wa Ta’ala…

 

21.23

 

Pecandu Sepi

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Santri and Amateur Researcher

Semerbak Angin Perpisahan