Santri and Amateur Researcher

 Menjadi apa yang saya sanggupp untuk berproses, itulah tujuan hidup saya

 

 

Tulisan ini saya buat sehari setelah pelaksanaan International Conference on Teaching Education and Social Studies 2020. Ya, tepat sehari yang lalu saya mengikuti kegiatan tersebut. Ada yang bertanya, kenapa bisa mengikuti konferensi internasional terindeks scopus ini ? Padahal saya masih mahasiswa yang baru akan memulai semester 5 yang seharusnya belum mendapat mata kuliah metode penelitian.

Singkatnya, akan saya jawab dengan:

“Ya, karena bejo saja”

Memang itulah benarnya. Allah memberi kesempatan kepada saya untuk merasakan konferensi internasinal dimana pesertanya kebanyakan adalah para dosen. “BEJO” adalah kata yang tepat karena bejo yang saya maksud adalah bertemunya antara kesiapan dan kesempatan. Bagi saya, tidak mungkin mendapatkan sebuah  keberuntungan kecuali orang tersebut sudah siap dan adanya kesempatan yang Allah berikan. Saya sudah mengambil mata kuliah metode penelitian kualitatif terlebih dahulu, karena waktu itu saya berkeyakinan mata kuliah itu sangat penting bagi saya. Begitulah singkatnya, tapi jika ada yang bertanya lebih panjang, mungkin karena beberapa foto saya yang terlihat aneh. Karena aku presentasi dengan memakai sarung bahkan seragam pondok. Itu karena memang ketidaksengajaan yang saya buat.

Inilah presentasi karya tulis ilmiah kedua yang saya lakukan di tengah pandemi ini. Banyak sekali kisah ditengah pandemi covid-19 yang membuat saya terpukau akan kejutan-kejutan Allah yang sangat luar biasa ini. Bercerita sedikit tantang bagaimana kegiatanku selama pandemi ini, ya di pondok. Tepatnya di Pondok Pesantren al-Hidayah Karangsuci. Saya menghabiskan masa pandemi ini dengan lockdown di pondok. Alhamdulillah biarpun terkunci bukan berarti di penjara. Banyak yang berkata katanya pondok pesantren adalan penjara suci. Tapi aku kurang setuju. Karena buktinya saja saya masih bisa mengikuti international conference tanpa dibatasi dan saya tetap menyandang statusnya menjadi santri. Sekali lagi akan saya pertegas bahwa status santri bukan halangan untuk bisa terbang. Loh ko terbang ? emang kamu punya sayap ? hee

 

Gini loh, jadi santri itu kan pasti berada di jalan Allah, dan Allah itu kan Maha Tinggi, apa salahnya kita berusaha menuju jalan-Nya dengan cara terbang ?

 

Boleh kita berlomba dengan bersepeda ria, boleh juga dengan bersama-sama terbang menuju meraih Ridho-Nya. Sebelumnya saya sempat frustasi dengan keputusan panitia sebuah lomba riset ilmiah mahasiswa yang mengadakan final lombanya secara daring. Padahal saya bersama teman saya sudah menjadi finalis 15 nasional dan merencanaka semua perjalanan terutama penerbangan ke Lombok. Siapa si, yang ndak pengin ke Lombok ? Wisata yang sangat menawan tentu sudah kami impikan. Tapi, lagi-lagi sudah menjadi kehendak Tuhan. Karena persebaran covid-19 yang terus meluas panitia memutuskan untuk final secara daring. Keinginan untuk bisa jalan-jalan harus saya pendam sedalam dalamnya. Apalagi tiket pesawat yang sudah kami pesan harus direlakan karena tidak bisa di refund dalam bentuk uang. Kami hanya pasrah dan terus berusaha untuk mengikuti final secara maksimal. Dan berakhir dengan hasil yang kurang memuaskan karena tim saya tidak mendapat juara. Indah sekali rencana Allah waktu itu. Kesabaran harus benar-benar dilekatkan dalam diri saya.

 

“Allah pasti akan mengganti dengan yang lebih baik”

 

Begitulah waktu terus berjalan. Saya terus mencoba terus menulis dengan segala keterbatasan. Karena hanya di pondok saya tidak bisa memimjam buku di perpustakaan dengan bebas. Jadi hanya mengandalkan internet dan lingkungan sekitar. Dari lockdown inilah muncul ide bahwa saya bisa menulis apa yang ada di dalam pondok pesantren ini. Aku tertarik dengan kegiatan tahfidz di pondokku karena sedikit berbeda dengan pondok yang lain. Aku melihat hanya sedikit saya santri yang mengikuti program tahfidz padahal total santri ada 600an. Pesantren ini bukan lah yang fokus mempelajari al-Qur’an saja. Bahkan yang ditekankan adalah mengaji diniyyah (mengaji kitab kuning dengan ilmu alatnya, ditambah fiqih, hadis, tauhid, dan sebagainya). Menghafal nadhom sesuai kelasnya menjadi kewajiban setiap santri. Kelas 1 tsanawiyah menghafal Hidayatus Sibyan, kelas 2 Qowaidus Shofiyah, kelas 3 Tsanawiyah ‘Imrithi, dan kelas Aliyah menghafal Alfiyah Ibn Malik yang berjumlah 1002 bait. Menghafal nadhom ini bukan perkara yang mudah, bagi saya. Karena kata-kata yang ada di setiap baitnya sangat asing. Tidak seperti al-Qur’an yang menggunakan tajwid dalam melafalkannya. Dari melihat teman-teman menghafal al-Qur’an yang berjumlah 30 juz padahal sedang menempuh masa madrasah diniyyah tersebut saya tertarik untuk menelitinya. Selain untuk menulis yang ditekankan justru inspirasi. Saya ingin mengetahui bagaimana cara mereka meregulasi diri mereka. Itulah mengapa saya membuat judul “Self-Regulation Quran Memorizers in Pesnatren Salaf in The Millenial Era”. Ini judul yang sudha di revisi oleh pak dosen selaku pembimbing dan penulis pertama dalam tulisan ini. Awalnya saya hanya iseng membicarakan ide ini kepada beliau. Kemudian beliau meng-accept dan membantu mengembangkan tulisannya supaya menjadi karya ilmiah yang sesuai aturan. Pertama kalinya saya belajar penelitian dengan dosen. Saya senang sekali ilmu metode penelitianku di pakai disini. Dari observasi, mengumpulkan data dengan wawancara, dokumentasi, membuat quesioner, aku diajari bayak oleh beliau. Bahkan pak dosen sangat mendukung saya untuk terus menulis dengan memimjami laptop. Ya, saya belum memiliki laptop saat mengerjakan penelitian ini. Senangnya bukan main karena akhirnya saya akhirnya bisa memegang laptop untuk menulis dengan bebas tempat seenaknya. Tidak hanya project penelitian ini saja yang saya kerjakan dengan laptop pinjaman itu, tapi juga menulis beberapa tulisan salahh satunya essay yang berhasil dimuat di dalam buku “Pendidikan Era Disrupsi”. Untuk pertama kalinya aku menjadi seorang penulis buku. Meskipun buku itu masih kolaborasi dengan 30 penulis di seluruh Indonesia semoga suatu saat saya bisa menjadi penulis solo. Amiin ya rabbal’alamin

 

Kembali kepada perjalanan belajar menulis di konferensi internasional ini yang tentu tidak terlepas dari beberapa kegagalanku menulis karya ilmiah. Sebenarnya aku ragu dengan event ini, karena membuat tulisan terindeks scopus pasti perkara yang susah. Tapi apa salahnya, aku mencoba. Setelah aku dan pak dosen membuat abstrak dan dinyatakan pantas untuk dipublikasikan aku pun melanjutkan belajar penelitian. Saya tidak berani menjadi penulis pertama karena memang masih amatiran, apalagi kalau bicara bahasa Inggris. Sangat rendah sekali kemampuan saya disana. Tapi dengan kerjasama dengan pak dosen akhirnya saya yang melakukan studi di lapangan dan hasilnya saya serahkan ke pak dosen. Aku menulis hasil penelitian di lapangan dengan bahas Indonesia, kemudian mengirim ke pak dosen untuk diperluas referensinya. Dari sini saya belajar bagaimana mengakses jurnal internsional, membuat sitasi dengan reference manager dan lainnya. Setelah paper kami submit, kemudian tim reviewer mengrimkan pesan ke e-mail untuk merevisi papernya tepatnya tanggal 10 Juni 2020. Penilaian paper ini diihat dari standar akademik, format penyajian yang dapat diakses oleh praktisi, hasil, implementasi, gaya penulisan, materi, teknis ada di lampiran, kejelasan penyajian. Bagaimana pengornanisasiannya ditulis dengan jelas atau tidak,  kontribusi yang signifikan bagi tumbuhnya pengetahuan. Bukti pendukung,  pembahasan hasil, kemudah dibaca dan bebas dari tata bahasa atau ejaan atau tidak. Dan seperti dugaanku, tata bahasa menyandang nilai di bawah rata-rata. Karena tata bahasa Inggris masih banyak yang belum sesuai.

 

Setelah diberi waktu satu pekan untuk merevisi, akhirnya kami berhasil merevisi. Itu berarti tinggal menunggu pelaksanaan presentasinya. Inilah yang paling membuatku deg-degan. Bagaimana rasanya mempresentasikan karya ilmiah dengan bahasa Inggris, seolah menakutkan sekali. Tapi harus aku buang rasa takut ni. Masih ada waktu belajar satu bulan lebih untuk belajar. Karena saya mencoba pelaksanaan konferensi di schedule tanggal 29 Juli 2020.

 

Tibalah tanggal 29 Juli, waktu itu aku baru saja menyelesaikan urusan perlombaan riset maahsiswa nasional. Aku tak yakin apa sudah bisa melakukan perjalanan ke Kudus atau tidak, karena covid-19 masih saja menyebar di Indonesia. Akhirnya dari panitia memutuskan untuk menunda satu bulan. Ya, rencana pelaksanaan adalah tanggal 29 Agustus 2020. Masih ada waktu untuk belajar. Awalnya pelaksanaan akan diadakan dalam dua model. Untuk yang berasal dari luar negeri dilakukan secara daring, sedangkan yang di Indonesia luring. Tapi kemudian pantia menfasilitasi pelayanan bagi yang menghendaki presentasi daring. Akhirnya saya dan pak dosen meminta untuk daring saja. Tapi kemudian di ada surat pemebritahuan  lagi bahwa pelaksanaan presentasi dilakukan secara luring. Saya pun segera bersiap-siap terutama mental jika presentasi langsung pasti akan lebih banyak challege-nya. Karena saya pertama kali ikut international conference, jadi saya buat teks presentasi terleih dahulu. Kemudian dihafalkan hehe. Saya mulai mempersiapkan perjalanan untuk ke Kudus di minggu terakhir jelang pelaksanaan. Karena saya sedang tinggal di pondok pesantren maka tidak mungin seenaknya pergi. Saya pun sowan kepada pengasuh terkait konferensi ini. Hari Selasa, 25 Austus 2020 aku mendapatkan ijin untuk pergi oleh pengasuh dengan syarat nanti sepulang dari sana harus karantina. Aku pun menurut karena ini semua pasti demi kebaikan bersama. Tidak lupa aku meminta ijin kepada orang tua di rumah. Bapak ibu pun mengijinkan. Meski menyimpan banyak kekhawatiran. Tidak lupa aku pun sowan kepada Ning selaku guru mengaji sekaligus murabbi ruhi, yang selama ini mengajariku al-Qur’an dengan penuh kesabaran. Begitu juga dengan ustadh kepala madrasah diniyyah. Karena mungkin saya akan menghabiskan waktu lama untuk karantina tanpa bisa mengikuti kegiatan sebagaimana biasanya. Semua pun sudah mengijinkan, tinggal saya berusaha untuk memaksimalkan kemampuan dan menjaga kesehatan. Aku pun mempersiapkan segala perlengkapan untuk perjalanan. Muai dari masker, handsanitizer, tolak angin, dll. Semua sudah siap karena sehari lagi kebernagkatannya. Bahkan teman-teman kamar sudah sangat mendukung dengan berbagai cara.

 

Ketika saya berkata “Ya Allah, besok aku presentasi pakai baju apa ya ?” karena jujur saja aku tidak pernah memasalahkan soal penampilan. Aku lebih sering mamakai gamis untuk kuliah atau kegiatan diluar. Tapi kemudian seorang teman menyarankanku untuk memakai bajunya. Koleksi bajunya yang lengkap dan stylish ia pinjamkan. Dengan gojlokan/ candaan khas santri aku latihan berpresentasi lengkap  dengan dress yang disarankan teman-temanku. Sudah menjadi hal biasa dalam dunia per-santri-an kalau pinjam meminjam baju, kerudung, dan lainnya. Siang itu pakaian sudah fix dan di-acc semua teman-temanku. Tiba-tiba salah satu temanku bangun tidur

“Mba, aku mimpi mba ke Kudus sekarang”

“Hahahaaa”

 

Begitulah kisahnya. Rupanya teman-temanku sudah ikut bahagia dengan kepergianku mengikuti konferensi ini. Karena selain keberhasilanku menembus Scopus, juga mengharap oleh-oleh makanan ketika pulang dari Kudus nanti. Hemmm, dasar santri putri…

 

Rencananya, saya dan pak dosen akan pergi pada Jum’at sore karena pelaksanaannya ada di Sabtu pagi. Saya sudahh mengajak satu teman dekatku yang bukan santri pondok sini untuk menemani ke sana. Tidak mungkin saya pergi jauh dengan posisi sebagai perempuan sendiri. Ya, semuanya sudah beres di Kamis menjelang siang.

 

Tanpa saya tahu sebelumnya tepatnya pukull 11.58 pak dosen mengirimku surat edaran terbaru, katanya dari panitia. Saya pun membuka pesan selesai jamaah dhuhur dari masjid.

 

“Membuka halaman pertama surat tersebut, aku merasa……………………. biasa saja. Hee”

 

Isi dari surat itu adalah pemberitahuan bahwa pelaksanaan konferensi ditetapkan secara daring. Hmm …

 

Mungkin karena saya sudah muai terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Jadi saya hanya mencoba bersabar. Semua pasti ada hikmahnya

 

“Tenang aja, Allah lagi nyapin surpraise buat saya”

 

“Ini bajunya aku kembaliin” kataku pada teman kamarku

“Loh ko, gimana mba ? ndak jadi ke Kudus apa ?”

“Ndak, hehe”

“YaAllah..hfdjbfgfjsnkdwjudiwgfuwjdowaiwyiwfgejnfls,kdsl;,asjdsjfhsgdusdksmdoskdpsdpdkopskfoljfmcdklmcjdkibdjbnc xdn   sdmksjdksjdlshfdjfbdj”

Teman-teman juga terkejut semua…

 

Seperti itulah sedikit kisahnya

 

Akhirnya saya melakukan konferensi dengan III plenary, keynote speaker dari luar negeri ada Prof. Madya Dr. Noor Azizi bin Ismail dari Univeritas Sains Islam (USIM) Malaysia, Dr. Jon MAson dari College of Education, Charles Darwin University Australia, Assoc. Prof. Bulent Tarman, Ph.D dari Gazi UNiversity Turkey, dan Dr. Ramesh Kumar, Ph.D dari Indian Institute of Technology (IIT), Dhanbad, Jharkhand, India.

 

Selanjutnya pada pukul 14.00 dimulai sesi presentasi. Saya dan pakk dosen masuk ke dalam grup “Islamic Education”. Dengan jumlah peserta 12 tim. Waktu yang sangat singkat, karena presentasi hanya dibatasi 7 menit. Begitu pun diskusi, hanya ada dua penanya yang mengklarifikasi hasil penelitian kami. Saya rasa tidak sesuai ekspektasi. Karena dengan waktu yang sedikit, saya rasa belum maksimal menyampaikan hasil penelitiannya.

 

Selain keluarga di rumah, pondok pesantren, juga ada lembaga beasiswa BAZNAS yang sudah mendukung saya dalam hal ini. Dengan bantuan prestasi saya bisa mengikuti presentasi ini. Kisah lengkap cerita beasiswa ada di postingan sebelumnya yaaa… hee

 

 

Begitulah sedikit kisah konferensi internasional pertama saya di tengah pandemi

 

 

Akhir cerita…

 

1. Berlatihlah menerima keadaan. Allah pasti sudah mengatur segala rencana lebih baik daripara rencana kita

2. Tidak usah khawatir dengan kehilangan harta, yang penting jiwa tetap menjaga wibawa

3. Boleh menangis, tapi jangan lama-lama

4. Menulis itu butuh proses

5. Meneliti itu butuh keuletan

6. Patuhi apa yang sudah menjadi peraturan di pesantren, jika pembaca adalah santri pondok pesantren

7. Libatkan Allah di semua keadaan

8. Kita bisa kuat, karena ada yang menguatkan. Dia-lah Yang Maha Kuat…

 

 

 #AmateurResearcher #Santri #Lockdown #PesantrenKeren #Mahasiswa #IslamicEducation


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diary Santri Covid-19

Semerbak Angin Perpisahan