Seni Memahami Lelaki
Tulisan ini, saya buat di siang hari. Setelah makan kenyang dan hati senang. Saya tidak akan menceritakan apa yang baru saja aku makan. Karena nanti mbok kalian iri, karena saya makannya enaaak bangettt. Bayangin gaes, makan nasi pulen, sayur bayem anget, ikan bandeng, tahu enak, telur gurih. Eh, ada susu sama buah pepaya. Udah itu makan vitamin, dan… lohh ko saya jadi cerita ya. Padahal tadi bilang ndak mau cerita… hehe
Yaps…
Beginilah tabiat seorang wanita. Menurut saya, sangatlah wajar jika seorang wanita dikatakan mudah cerewet, baper, atau sejenisnya. Karena saya sendiri pun terkadang seperti itu. Bilangnya tidak suka dipuji, tapi kalau sekali di puji bapernya berkali-kali. Bilangnya ndak apa-apa, padahal pengin apa-apa, bahkan segalanya. Dududuhh, nanti malah memperpanjang cerita tentang wanita. Padahal ini judulnya “Seni Memahami Lelaki”.
Skip
Kenapa saya menulis demikian ? karena ini ada kaitannya dengan kejadian tadi pagi.
Huft… saya ambil napas dulu ya…
Jadi gini tadi pagi saya bangun tidur. Terus ke WC ambil wudhu. Sudah tahu lah selanjutnya apa. Ya. Mengirimkan do’a-do’a untuk yang dicinta. Barangkali nama anda masuk salah satunya, ya sudah berarti anda beruntung saja. Saya ini manusia biasa, bukan wali ya ndak tau do’anya di ijabah atau tidak. Tapi setidaknya aku usahakan untuk berdo’a yang baik-baik untuk semua orang yang baik.
Orang tua
Adalah nama pertama yang pasti diprioritaskan di dalam do’a seorang anak. Begitupun saya. Memohon supaya orang tua selamat dunia akhirat. Tentu juga do’a-do’a lain yang pasti untuk meminta kebaikan.
Satu hal yang membuatku khawatir pagi ini yaitu tentang ketidakjujuranku pada ibu. Padahal sudah diberitahu bahwa do’a ibu yang melahirkan itu setara dengan wali-wali. Tapi tetap saja saya tidak menuruti itu. Dasar entah santri apa saya ini. Tapi yang jelas aku memiliki alasan untuk tidak mengatakan semuanya kepada ibu. Saya takut mereka akan khawatir berlebihan karena terus menerus memikirkan anak bungsunya.
Ya, saya adalah anak bungsu yang manja. Meskipun banyak orang berkata saya ini perempuan gila, nekat, tangguh, prett itulah. Tapi saya merasa masih saja menjadi anak manja. Sudah umur 21 tahun, masih saja sekolah minta ke orang tua. Ketika yang lain sudah bisa bekerja dan membantu finansial orang tua justru saya penghabis keuangan keluarga. Memang pernah saya bekerja dan tidak lagi meminta kepada orang tua tapi itu hanya bertahan satu tahun saja. Setelah saya dinyatakan lolos di perguruan tinggi Islam di Purwokerto, saya kembali lagi menjadi anak manja ini.
Perlahan gelar anak manja ingin saya lepas sedikit demi sedikit. Di kota rantau pertama saya ini, saya ingin belajar menjadi seorang yang mandiri. Saya ingin mendapatkan ilmu yang tidak sebatas di bangku perkuliahan saja. Lulus sarjana dan memakai toga sarjana. Tidak, saya tidak ingin itu saja. Saya ingin dalam diri saya mengalir ruh manusia yang paripurna. Saya ingin menjadi sebaik-baiknya manusia. Itulah mengapa saya memilih untuk tinggal di pondok pesantren. Sesuai kesepakatan keluarga semuanya pun setuju. Sampai saat ini saya masuk semester lima, pun masih tetap tinggal di pesantren.
Tantangan demi tantangan saya lewati. Batu terjal dan curamnya tebing sudah berhasil aku daki. Dan kini, saatnya ujian Allah menghampiri.
Di tengah pandemi wabah Covid-19, manusia ditakutkan dengan kehadiran virus kecil itu. Kebijakan demi kebijakan di buat demi menghindari wabah penyakit ini. Katanya wabah seperti ini pasti muncul setiap 100 tahun sekali. Itulah mengapa ini adalah sesuatu yang sangat bersejarah dan harus saya abadikan kisahnya.
Corona Virus Disease (Corona) yang sudah merenggut banyak manusia di dunia rupanya memunculkan kekhawatiran dimana-mana. Persebarannya yang sangat cepat membuat orang was-was terkena dampaknya. Pondok pesantren pun membuat kebijakan untuk mencegah datangnya virus ini. Berbagai amalan diijazahkan oleh ulama kepada santri-santrinya. Begitu pun pondok pesantren saya. Selain amalan-amalan dilaksanakan juga protokol kesehatan pun sudah diterapkan.
Tapi karena takdir Allah, Tidak ada yang tidak mungkin.
Pesantren saya kedatangan tamu yang bernama covid-19 ini. Setelah salah satu santri dinyatakan positif, santri-santri di swab masal. Drama demi drama terjadi. Mulai dari gejala sesak napas, indra penciuman terganggu, panas, batuk, pilek dan sebagainya. Termasuk saya yang masuk ke dalam kategori indra penciuman terganggu. Saya pun diminta untuk pindah kamar supaya tidak berbaur dengan teman-teman yang sehat. Setelah hasil swab keluar, tepatnya tadi malam, saya bergegas menuju halaman. Mendapat arahan dari petugas untuk proses evakuasi. Aku pun menuruti segala yang dikatakan oleh mereka. Pasrah sajalah, kan ada Allah.
“WHEN WE HAVE ALLAH, WE HAVE EVERYTHING”
Itulah pegangan hidup saya sejak dulu. Buat penyemangat sendiri saja, karena memang ndak ada yang nyemangatin, eh. Skip.
Aku belum memberitahu ibu bapak bahwa aku positif. Karena saya dapat kabar yang positif, ya saya berpikir positif saja. Saya ingin semuanya baik-baik saja. Dan saya ndak mau ibu bapak tahu dulu malam ini. Saya ingin membiarkan mereka tidur dengan nyenyak tanpa memikirkan keadaan saya saat ini. Begitu pun saya yang langsung tidur ketika sampai di Rumah Sakit sekitar pukul 23.00 WIB. Biasanya jam-jam seperti itu saya baru pulang ke kamar setelah mengaji.
Pagi saya indah, karena Allah membangunkan di sepertiga malam. Romantisme sungguh terasa sekali ketika air wudhu yang mensucikan di akhiri sujud panjang yang menenangkan. Mencurahkan segala sedu sedan kepada Tuhan pemilik alam.
Selesai ritual selesai dan sholat Shubuh, saya masih belum membuka Hp. Saya semalam sudah memberi kabar kepada kakang di rumah, supaya menyampaikan kabar bahwa aku positif. Meskipun dia sebenarnya sudah tahu informasi ini itu dari media. Saya ingin penyampaiann berita keadaan saya kepada orang tua sesuai prosedur yang ada. Semua tenang dan bisa cepat mengikhlaskan. Sungguh saya paling tidak kuat mengetahui orang tua menangisi saya.
Sampai pukul 06.30 saya menelfon kakang, ternyata beliau masih tidur. Yang mengangkat telfon adalah mba. Dan dia bertanya hasil swab saya. Tidak berani menyampaikan terlebih dahulu, saya pun menyudahi perbincangan. Saya mencari nama Mama di kontakku. Memencet tombol call sekedar missed call. Katanya mba beliau sedang mencuci baju di kali. Saya pikir setidaknya saya sudah mencoba menghubungi Mama. Tapi ternyata tidak lama kemudian beliau menelfon.
“Loh, sudah selesai mencucinya” batin saya
Saya pun mendengar suara sedikit parau di ujung sana. Saya paham sekali itu adalah suara bapak. Kami pun berbincang sabagaimana biasanya. Bertanya kabar, dan saya jawab selalu dengan kata “Baik”. Hingga beliau menanyakan hasil swab saya. Bismillahirrahmanirrahim, inilah saatnya.
“Nggih, dados niki pak. Hasil swab kulo sampun medhal…”
“Oh ya, terus ???”
“Kulo positif”
Sungguh saya tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi beliau saat itu.
“Tapi tenang mawon, kulo wonten mriki di rawat maksimal. Pelayanan selalu sigap”
“Di rawat neng ndi ?”
“Rumah sakit, …. pak”
Saya tahu dan paham sekali bahwa beliau sedang menangis. Dengan sesenggukan beliau mengtakan sesuatu. Berat sekali mendengarnya…
“Mboten nopo-nopo Pak. Wonten mriki mboten piyambek, kancane kulo nggih kathah”
“...” beliau masih diam
“Ya Allah, patang wulan aku ora ketemu koe, Cah. Ujug-ujug olih kabar kaya kie”
Lidah saya semakin kelu. Dada saya sesak, dan air mata hampir saja tumpah. Sungguh menerima kenyataan pahit memang berat. Tapi saya tidak boleh seperti itu. Saya harus kuat dulu, sebelum menguatkan orang lain. Saya tidak boleh menangis karena itu akan menambah luka hati mereka.
Suara bapak sudah tidak terdengar lagi. Dan sekarang giliran ibu yang berbicara.
“Lah koe saiki nangendi ?”
“Rumah sakit ma”
“Layanane piwe ?”
“Sae ma, petugase sigap”
“Lah kancamu nangedi ? Se kamar cah pira. Wis pokoke siki koe tuku madu, susu, maem sing akeh… duite piwe duite wingi sing di kirim, cukup ? Maning ?…jdgfkjnfklejfl.dkfeokf;dmfmd fmhjfhenkfh;asl,d;aldpusiotoyebrcmelw;ld.w;f;dekmglfdmgkjrghrihgr rje kf werk ej feghr hgirkgj rjgkrmg kr gkro jg orjo.”
…
Seperti itulah ibu.
Perempuan tangguh sepanjang masa yang sinarnya melebihi sang surya. Kuat sekali mendengar berita kurang baik ini. Seorang bapak saja tidak kuat mendengar kabar berita ini. Sungguh ibu yang paling hebat sedunia. Eh, tapi bukan berarti saya merendahkan bapak ya. Justru saya salut ke bapak, beliau yang selama ini selalu banting tulang setiap hari demi memenuhi semua kebutuhan hidupku. Hidup loh ya, bukan cuma makan. Hidup itu tidak hanya fisik tapi juga jiwanya. Beliau selalu care kepada saya apapun kondisinya. Seberapa menyebalkan saya, saya tidak lah pernah salah di hadapannya. Saya ini putri tercintanya…
Begitu pun bapak, adalah beliau laki-laki sekaligus cinta pertama saya…
I love you Dad, I love You Mom…
I’m here Fine. And I will come back as soon as…
Everything is gonna be alright…
Dari sedikit kisah tadi pagi saya langsung terbesit dalam hati bahwa laki-laki sebenarnya pun memiliki kelemahan. Bisa saja otot kawat tulang besi, tapi hati… siapa yang tidak tersakiti jika orang yang dicintainya sakit. Itulah mengapa saya mengafirmasi bahwa laki-laki pun memiliki rasa yang sama. Meski pun dia terlihat kuat di hadapan wanita bisa jadi dia sedang menyembunyikan segala sesak di dada. Dan saya pun tidak akan pernah percaya, jika laki-laki berkata “Saya ini tahan banting, otot kawat tulang besi”. Bukan berarti saya sedang merendahkan derajat seorang laki-laki tapi saya pun sedang belajar bagaimana memahami lelaki. Karena sejauh ini saya belum pernah berani memantapkan hati pada seorang lelaki lain selain bapak. Bukan karena sok suci tapi memang saya yang belum pantas saja dan yang jelas belum waktunya…
Sekian
Komentar
Posting Komentar