USAHA PENYELAMATAN HATI

 


Di tengah malam yang sunyi, aku tengah berdialog dengan diriku sendiri. Bukan dengan rembulan yang baru muncul setengah, ataupun bintang-bintang yang menyapa sedari tadi. Aku tidak membiarkan siapapun menyapa ruang hatiku. Karena suara siapapun itu tidak akan bisa menghentikan lamunan indahku. Menepi dari kisah drama yang tidak lagi menarik karena kisahnya tidak ada bedanya dengan kisah sebelumnya. Jatuh, belum sampai cinta. Begitu berulang kali sampai aku merasa mati rasa. Inilah pertama kalinya aku merasakan patah hati karena manusia. Sudah hampir satu tahun lamanya, aku mengalami trauma jatuh cinta. Karena usaha bertahun-tahun menjaga hati supaya tidak terjatuh kepada lubang yang bernama cinta, tapi ternyata aku termakan sendiri oleh kata-kata yang aku buat sendiri. Beberapa waktu yang lalu aku mendiagnosa diriku sendiri menderita Philopobhia. Ya, itu adalah penyakit ketakutan seseorang untuk jatuh cinta. Penyebabnya bisa karena trauma dengan masa lalu. Begitu yang terjadi sampai saat ini. Aku belum bisa membuka hati untuk siapapun. Tiba-tiba aku teringat percakapan bersama salah satu sahabatku.

“Na, kenapa kamu menolak lamarannya Arya ?”

“Aku ini penderita Philopobhia Ar. Bagaimana aku bisa menerima orang baru, kalau trauma luka setahun yang lalu masih belum hilang dari ingatanku”.

“Apa kamu ingin menjadi amnesia selamanya ?” kata Arimbi sedikit ketus.

Seketika runtuhlah pertahananku saat itu. Air mata yang berbulan-bulan tidak bisa menetes, akhirnya ia luruhkan juga. Dipeluklah aku olehnya.

“Na, Philopobhia itu hanya diagnosa pikiran kamu. Aku yakin kamu bisa berdamai dengan semua ini. Aku yakin, semua ini tidak mudah. Tapi terlalu lama menyiksa diri akan menambah kesengsaraanmu. Masa lalu bukan untuk dilupakan, tapi untuk dijadikan pelajaran” kata Arimbi berbisik kepada Aku.

“Terus aku harus gimana Ar. Namanya sudah terlanjur aku sematkan di buku pertamaku. Karya yang aku buat dengan terus membayangkan wajahnya” kataku masih sesenggukan.

“Cobalah menulis buku lagi. Lanjutkan kisahmu di lembaran yang baru. Bukankah kamu pernah bilang, kalau ada dua situasi dimana seseorang itu bisa menulis dengan sangat baik. Yakni ketika jatuh cinta dan patah hati. Ayo menulis lagi” kata Arimbi meyakinkannya.

Semilir angin yang bergemuruh menyadarkan lamunanku. Kembalilah pandanganku ke naskah novel yang ada didepan mata. Aku berencana mengirim naskahnya ke penerbit mayor yang selama ini aku incar. Aku memberi judul bukunya “Usaha Penyelamatan Hati”. Menceritakan kisah seseorang yang berjuang habis-habisan membangkitkan rasa cintanya. Bagaimana dia kembali bisa membuka ruang hati untuk orang lain dengan tidak lagi sakit hati ketika mengingat masa lalunya. Sekelumit kisah ini aku tulis untuk memporak-porandakan hati pembaca nantinya. karena ada masa depan yang harus diselamatkan. Terombang-ambing di masa lalu yang tidak ada kepastian cukup dijadikan menjadi pelajaran.

Selamat Move On.

Tidak mudah, bukan berarti tidak bisa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Santri and Amateur Researcher

Diary Santri Covid-19

Semerbak Angin Perpisahan