Postingan

Gambar
CERITA KESYUKURAN, DI BAWAH POHON CENGKEH (Kebaikan, Covid-19, dan Ramadhan)   Kembali aku menginjakkan kaki di Negeri Liken. Sebuah negeri yang aku namai sendiri karena satu hal yang menarik perhatianku, yaitu adanya Liken atau Lichenese yang masih terjaga di daerah ini. Inilah tempat dimana aku dilahirkan. Sebuah desa di atas dataran tinggi yang masih asri. Adanya banyak Liken di beberapa pohon, menandakan bahwa di sini udaranya masih terjaga dari polusi. Kali ini kisah kembali aku ukir. Tentang nikmat Allah selalu hadir. Di tengah pandemi covid-19 yang membuat segala aktivitas terbatas, namun rasa syukur ini masih tanpa batas. Aku baru saja pulang dari Purwokerto, tempat dimana aku menimba ilmu. Di sebuah Perguruan Tinggi Islam dan pondok pesantren. Sudah dua tahun lamanya aku berada disana. Merajut kisah menggapai mimpi dan berusaha meminang ridho illahi. Aku bersyukur sekali didekatkan dengan orang-orang besar. Beberapa dosen, staff, kepala perpus , sampai direktur ya...

Seni Mengambil Hikmah (2) Special Ramadhan

SENI MENGAMBIL HIKMAH Part 2 ( Diary of Taitsirul Kholaq ) Kicauan burung terus bersahutan. Berbahagia menyambut dhuha yang sebentar lagi tiba. Tapi nyatanya bahagia bukan hanya miliknya. Ada hati yang terus menari, tatkala mendengat nasihat sang murabbi ruhi... -Karangsuci, 21April 2020- Saat ini aku sedang di taman surga. Taman kebahagiaan karena banyak sekali nikmat Allah yang dilimpahkan. Sebuah perjalanan panjang telah aku lalui. Bermacam tingkah pernah membuatku tak terarah. Dan kini aku terdampar di taman penuh hidayah. Lika-liku pencarian seorang guru semakin menderu. Sepertinya disini, aku telah menemukan candu. Sebuah perjalanan suci terus aku langkahi, demi meminang ridho illahi. Baiklah, ini adalah kisahku menjadi seorang santri di suatu pondok di Purwokerto. Sudah hampir dua tahun aku tinggal disini. Tidak ada sama sekali ketidakbahagaiaan kecuali berujung kenikmatan. Seperti halnya Ramadhan kali ini. Di tengah pandemi covid-19 aku masih terjebak bersama ni...

Ramadhan Story

Ya Allah, di akhir sisa hidupku ini Ampunilah dosaku dan kedua orang tuaku -Semarang, 2017- Sebuah do’a yang masih terekam dengan jelas. Potret pondok penghafal Qur’an di tengah hutan Semarang sana. Pertama kalinya hatiku meleleh, dengan do’a yang terpampang jelas di atap aula. Rumah panggung yang terlihat elok. Seolah aku melihat keelokan surga di dunia nyata. Melihat pesona gadis yang terjaga akhlaknya. Tersenyum melihat kamera yang aku bawa. Disanalah ada cerita alat digital begitu sangat dilarang. Aku diceritai pemilik pondoknya “Kalau santri ketahuan mainan hp, nanti kena ta’ziran berat”. Disini peraturan sagat ditegakkan. Sebuah pondok yang sederhana, berhasil mencuri perhatianku. Senyuman gadis kecil yang membius relung hatiku, seketika aku berkaca pada diri yang jauh dari kata suci. Kemana saja aku selama ini, kenapa tak penah berpikir untuk menjadi seorang penghafal al-Qur’an ? Berbagai drama membuat hatiku berkecamuk. Aku melihat jadwal keseharian satri di sana. Sel...

Seni Mengambil Hikmah (1)

SENI MENGAMBIL HIKMAH Part 1 Ada serangkaian kata yang membuat otakku sesak. Supaya hati tak berontak, biarkan aku bercerita. Malam ini, bersamamu... sepi Bismillahirrahmanirrahim... Aku akan membuka kisah masa lalu. Ketika drama perpisahan dimana aku harus pergi meninggalkan sebuah lingkungan yang nyaman. Nyaman karena aku merasa menjadi orang yang bermanfaat, mampu berkontribusi, menjadi peibadi yang pantang menyerah, ketika itu, aku selalu si dekatkan dengan orang-orang yang luar biasa. Disanalah aku menjadi seorang guru. Entah guru atau guru-guruan. Yang jelas aku senang sekali bisa terjun langsung didunia pendidikan. Cita-cita yang sedari kecil tercapai seketika aku gapai dengan jalan yang selalu Allah permudah. Ya. Aku telah menjadi guru pendidikan anak usia dini, guru privat, guru mengaji, juga yang paling berkesan, aku menjadi guru pendamping ABK. Sebuah kebahagiaan yang harus aku syukuri, karena aku telah dipertemukan dengan orang-orang hebat. Ada sekeluarga us...

Catatan Malam Santri Karangsuci

Sebagaimana kebahagiaan malam sebelumnya, nikmat malam terus-menerus bertambah. Sembari menunggu senyum sang rembulan yang aku ramal sebentar lagi akan menyapa. Bintang masih saja setia menemani kedamaian kita malam ini. Opening dengan lagu Aisyah, malam ini kisah tak ada pemisah. Rindu yang sudah kita tabung, sementara harus kita kurung. Sebagaimana kisah burung tak bersayap yang tidak bisa lagi terbang karena tiket pesawat sudah di refund nya. Ah, itu kisahku saja. Aku tak akan bercerita kesedihan malam ini. Kita sedang dalam kebahagiaan. Seiring do'a dan harapan orang tersayang di luar sana pun bahagia. Selama pandemi ini, kita lebih sering berkabar lewat do'a. Sungguh romantis bukan ? Anggap saja ini bonus, supaya kita lebih banyak bersyukur dan sadar. Bahwasanya nikmat Allah begitu luas. Seluas kebahagiaan malam ini, dimana kita dalam satu taman. Taman surga Al-Hidayah Karangsuci. Aku yang ditakdirkan disini, karena hidayah dan berharap menjadi orang terjaga kesucia...
Kekhawatiran terbesarku adalah saat aku berbicara dan aku menyesali pembicaraan itu

Kembali Sendiri

Cemburu ini kian menjarah Menusuk jantung yang meraung raung Kesakitan yang tak ada habisnya Dalam ruang yang hampa Hatinya terus tertusuk tusuk Ingin aku buta Karena rasa yang tak terbalas Semua orang tak akan pernah mengerti Bagaimana hidup terus sendiri Iri terus menggerogoti Istighfar terus membuatnya lapar Lapar akan pertemuan Dengan pemilik-Nya  kapan hamba akan kau jemput, Tuhan ?